Sudah Saatnya Kita Sebagai Pemilih Yang Cerdas

Your Ads Here
Sudah Saatnya Kita Sebagai Pemilih Yang Cerdas

Apa Yang Dimaksud Dengan Pemilih Yang Cerdas
          Pemilih dengan cerdas, maksudnya adalah memilih dengan menggunakan akal yang sehat dan hati nurani yang bersih. Memilih dengan akal sehat, berarti bahwa kita memilih dengan menggunakan penilaian yang objektif bukan subjektif, tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti uang, hubungan kekeluargaan, kesukuan, satu daerah, agama, bisnis dan lain-lain. Memilih dengan hati nurani, bermakna bahwa kita harus melihat dengan hati nurani kita yang bersih, siapa sebenarnya calon yang akan kita pilih nanti, bagaimana kualitas moralitasnya, kualitas intelektualnya dan keterampilan profesional yang dia miliki.

Sangatlah sulit menjadikan rakyat sebagai pemilih cerdas atau rasional. Mereka sering terjebak dalam pilihan-pilihan yang sifatnya tidak masuk akal atau irasional dan masih mudah terjadi, karena umumnya masyarakat tunduk atas budaya di lingkungan sekelilingnya yang masing sangat besar. Di samping itu, masyarakat juga cenderung pragmatis materialistis sehingga semakin menyulitkan upaya untuk pencerdasan.  Pemilihan umum baik itu pemilihan presiden atau pemilihan-pemilihan lainnya yang tidak membawa perubahan apa pun juga akan memunculkan suatu idiom, menjadi pembentukan-pembentukan dari betapa pragmatisnya serta meterialistisnya rakyat saat ini esok dan nanti. tidak sekadar formalitas prosedur demokrasi, tetapi lebih dari itu, yang mempunyai arti untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak ada jawaban tunggal tentang hal tersebut. Namun salah satu elemen yang penting dan bisa dijadikan jawaban adalah mendorong para pemilih-pemilih tersebut  untuk lebih cerdas dalam menentukan pilihan.

Kualitas hasil dari pemilihan umum (presiden) dengan melahirkan kepala pemerintahan yang berkualitas, sehingga mampu membuat perubahan-perubahan negara ini ke arah yang lebih baik dan lebih sejahtera lagi, oleh karena itu kecerdasan dan kejelian serta ketelitian dalam menilai integritas, kapasitas dan kompetensi para calon presiden juga menjadi sangat penting. Keberadaan sosok/figur tertentu dengan segala janji-janji yang diberikan kepada rakyat pemilih serta harapan yang mereka berikan ketika terpilih menjadi kepala negara, kepala pemerintahan atau anggota dewan, bukanlah satu-satunya acuan dalam menentukan pilihan. 

          Tingkat partisipasi dan kualitas pilihan kita dalam suatu pemilihan umum kepala pemerintahan sangat besar artinya bagi perbaikan suatu kebijakan-kebijakan, peraturan negara di masa mendatang. Dalam konteks ini, golput (tidak memberikan suara) tentunya bukanlah menjadi pilihan terbaik ketika kita mengharapkan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat di negeri ini. Golongan putih atau Golput mengindikasikan bahwa kita terkesan pasrah pada keadaan sekarang dan tidak ingin merubah keadaan yang kurang ideal menjadi lebih baik. Padahal melalui pemilihan umum kepala pemerintahan yang berkualitas, kitalah yang menentukan nasib negara kita ini, paling tidak selama lima tahun ke depan. Kita sebagai pemilih adalah ‘penentu’ bagi kemajuan negara ini, sebagai mana dalam istilah demokrasi vox populi vox dei “suara rakyat” adalah “suara Tuhan”.

         Pemilih yang cerdas harus bisa mencari tahu atau informasi tentang keberadaan mengenai sosok/figur para calon kepala pemerintahan, serta faktor lain seperti integritas, kompetensi, kapasitas dan kapabilitas mereka sebelum menentukan pilihan. Sebaik-baik suatu keputusan yang tepat berarti keputusan tersebut didasarkan pada informasi yang benar serta akurat tentang semua hal berkaitan dengan keputusan tersebut. Keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang tidak tepat, akan berdampak pada kesalahan dalam menentukan pilihan, tetapi akan bertambah sangat parah lagi dalam menentukan masa depan negara ini lima tahun ke depan. 
Bayangkan jika kita memilih orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kapasitas yang baik sebagai kepala pemerintahan maka yang akan didapat hanyalah janji-janji semata dan harapan palsu.

         Pemilih pasif dalam pengertian pemilih yang hanya ikut-ikutan semata atau pemilih dadakan dan tanpa mempedulikan kemampuan dan kapasitas calon kepala pemerintahan atau sebangsanya membawa daerah ini ke arah yang lebih baik. Apalagi seperti kondisi sekarang ini, adanya kecendrungan over fanatisme seseorang terhadap sosok/figur calon kepala pemerintahan yang dijagokannya, sehingga mereka akan mengajak orang lain memilih calon kepala pemerintahan/figur tersebut. Tidak sebatas itu saja, keberadaan tim suksesnyapun dari masing-masing calon kepala pemerintahan akan ikut serta mengaburkan informasi tentang kompetensi dan kapabilitas calon kepala pemerintahan yang didukungnya. Sehingga kita sebagai rakyat pemilih harus selektif dalam meningkatkan sensitivitas kita terhadap informasi-informasi yang kita terima tentang keunggulan seseorang calon kepala pemerintahan.
          Menurut beberapa pakar bahwa ada tigas cara untuk memilih kepala pemerintahan dengan cerdas serta berkualitas :
Pertama, terlebih dahulu kita kenali calonnya. Sebelum kita  menentukan pilihan, sebaiknya pemilih mengenal dan mengetahui riwayat hidup dari calon kepala pemerintahan serta partai politik yang mengusungnya. Pengenalan riwayat hidup dapat berhubungan langsung dengan pendidikan, pekerjaan, aktifitas pada lingkungan masyarakat, dan juga secara pribadi yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari bersama-sama dengan masyarakat.

Kedua Mengetahui visi, misi dan programnya. Visi adalah serangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian seorang calon kepala pemerintahan yang ingin dicapainya ketika “Menjadi”. Visi, antara lain harus mengandung karakteristik seperti, dapat di bayangkan, me¬narik, realistis dan dapat dicapai, jelas, aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkun¬gan, serta mudah dipahami. 

Sedangkan Misi merupakan lanjutan dari visi. Pada dasarnya, misi adalah alasan yang mendasar eksistensi dari visi. Misi biasanya sudah mengarahkan secara tegas calon kepala pemerintahan menuju suatu tujuan tertentu yang secara teknis dapat dijabarkan ke dalam sebuah program-program. Penting kiranya para pemilih untuk melihat korelasi antara visi, misi, dan program. Misi menempati posisi strategis, karena secara filosofis harus mampu menterjemahkan visi dan secara teknis harus mampu diimplemantasikan ke dalam program. Hubungan visi, misi dan program tersebut menjadi titik fokus perhatian para pemilih dan masyarakat dalam melihat kapa¬bilitas calon kepala pemerintahan. Para pemilih dan masyarakat harus kritis dalam mencermati misi para calon, karena misi merupakan langkah awal menuju program yang secara teknis dapat dicermati dengan lebih mudah. Jika misi para calon tersebut tidak jelas, maka sudah dapat dipastikan program yang ditawarkan juga perlu dipertanyakan, “apakah para calon betul-betul berfikir secara konseptual?” Apabila para calon tidak dapat berfikir secara konseptual, tentu patut dipertanyakan kemampuan mereka dalam mengemban amanah penyelenggara negara dan pemerintahan. Program  merupakan penterjemahan secara teknis dari visi dan misi, yang ditawar¬kan oleh para calon kepada pemilih dan masyarakat. Biasanya para calon mengemas program tersebut sedemikian bagusnya, sehingga program-program mereka terlihat sempurna dan menjanjikan masa depan yang lebh baik kepada para pemi¬lih dan masyarakat. Oleh karena itu, para pemilih dan masyarakat harus cerdas dan cermat dalam me¬nilai program yang ditawarkan oleh para calon. Pemilih dan masyarakat harus dapat menilai, apakah program-program tersebut realistis, dihubungkan dengan kemam¬puan para calon calon? Apakah program-program tersebut menyentuh persoalan-persoalan yang dihadapi para pemilih dan masyarakat? Apakah program-program tersebut betul-betul dirancang dengan suatu pemikiran yang komprehensif, serta berbagai pertan¬yaan lain yang spesifik dari para pemilih dan masyarakat.

          Ketiga Awasi kinerjanya. Proses demokrasi di tingkat lokal tidak berhenti sampai dengan terpilihnya kepala pemerintaan (negara) melainkan harus lebih luas dan dalam, termasuk menyangkut apakah kepemimpinan politik-pemerintahan yang terpilih bisa berorientasi pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat banyak. Pemilihan Presiden bisa dianggap “gagal” justru bila kepemimpinan politik-pemerintahan yang sudah terjadi dan terbangun justru merepresentasikan kepentingan segelitir elite politik, kepentingan politik, kepentingan bisnis (oligarkis) yang berkuasa. Oleh karena, Pemilihan Presiden nanti yang memungkinkan warga memilih pemimpin mereka secara langsung harus diikuti oleh perluasan voice, akses dan kontrol masyarakat untuk terlibat secara partisipatoris dalam proses-proses kebijakan. Karena melalui model demokrasi partisipatoris itulah warga masyarakat akan mempunyai kesempatan untuk mengimbangi model demokrasi perwakilan dan perwalian.

Dari pemaparan tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa  pemilih yang cerdas pastinya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, bahwa ia tidak akan mempertimbangkan dengan serius janji-janji manis dalam kampanye politiknya. Terhadap uang yang diberikan kepadanya, ia tidak akan menerima atau tidak akan menggadaikan dirinya dengan tebusan kebebasan. Seorang pemilih yang cerdas akan memandang bahwa partai pengusung seorang calon presiden adalah hal yang sangat perlu dipertimbangkan, terutama menyangkut partai manakah yang tetap nasionalis, secara ideologis tetap komit terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Jangan sampai memilih calon presiden yang diusung oleh partai politik yang sektarian, menonjolkan primordialisme. Sementara itu, fokus pertimbangan yang dipakai adalah motivasi calon presiden, rekam jejak, dan komitmen ke depan. 


Your Ads Here
Sudah Saatnya Kita Sebagai Pemilih Yang Cerdas Rating: 4.5 Diposkan Oleh: berita tegal


Top