Menjelang Pilpres 2019 dari Kementerian hingga bawahan tidak bekerja secara maksimal

Your Ads Here

Kenapa demikian, karena mereka pada umumnya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan untuk memenangkan pasangan Joko MA, apalagi setelah pelantikan-pelantikan gubernur baru di Istana negara pada bulan-bulan yang lalu. Joko MA berpesan agar kepala negara yang berasal dari partai demokrasi indonesia perjuangan dimediasi menjadi juru kampanye nanti. Melihat kondisi seperti ini maka kepala pemerintahan dari provinsi hingga kelurahan bekerja tidak maksimal, mereka alam pikiranya sudah berlainan arah yaitu menjadi seorang politikus praktis kecil-kecilan, apalagi pasangan Joko adala seorang kyai, MA namanya, hingga masyarakat seakan terpecah menjadi dua kelompok. Om Joko menginginkan umat Islam untuk memilih kembali Joko MA, apalagi bapak MA merupakan tokoh dari Majelis Ulama Indonesia, sehingga menjadi daya tarik dari masyarakat paling bawah terutama masyarakat jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Tarik menarik dukung mendukung kerap terjadi, hingga akhirnya umat merasa bingung untuk memilih siapa ?, dan kaum masyarakat terbawah yang tidak paham dengan politik dibagi menjadi beberapa kelompok:
  • Masyarakat memilih Jokowi karena mereka melihat cawapresnya MA dari MUI, masyarakat inilah yang tentunya tidak mengetahui perpolitikan yang jero (dalam). Masyarakat model ini adalah masyarakat yang kurang pengetahuanya (bukan berarti berpendidikan rendah) karena daya nalar kurang ceta (cerdas), mereka hanya melihat sosok wakilnya saja yang seorang ulama, tidak melihat atau bahkan tidak tahu bahwa apabila bila masyarakat tersebut memilih wakilnya yang hakikinya sama saja memenangkan calon presidennya. Tetapi masyarakat demikian itu, tidak mau tahu yang penting wakilnya orang baik, agamis dan Islamis.
  • Masyarakat memilih Jokowi karena memang mereka dari kelompoknya misalnya masyarakat yang suka dan senang dengan PDIP, masyarakat abangan, masyarakat non-muslim atau masyarakat gado-gado. Mereka mempunyai kepentingan dengan calon presiden bisa urusan jabatan, kedudukan, pencalegan dari partai pendukung, kekayaan, bisnis dan kepentingan lainnya. Intinya adalah masyarakat jenis ini adalah masyarakat yang egois, tidak mau tahu siapa calon presidenya, istilah kerennya adalah ‘biar gepeng asal banteng’.
  • Masyarakat yang tidak memilih Jokowi karena suatu keadaan atau kondisi tertentu. Pada awalnya masyarakat memilih dia karena berbagai hal, karena pada waktu kali pertama pencalonan rivalnya adalah seorang Prabowo, mungkin di benak masyarakat Prabowo adalah anak buah orde baru, isyu tri sakti 1998, dan isyu dari negara asing. Hingga masyarakat termakan isyu tersebut akhirnya mereka  beramai-ramai dan berduyun-duyun memilih Jokowi dan menjadi presiden, tetapi setelah pelantikan kehidupan dengan presiden baru berlanjut dan lambat laun masyarakat mulai merasakanya yang getir sehingga masyarakat sepertinya mendapat angin kekecewaan yang mendalam dikarenakan kondisi keadaan suatu negara di segala bidang semakin hari semakin tidak menentu, contohnya kondisi perdagangan yang tidak stabil kemudian adanya import-import bahan makanan yang berton-ton sedangkan dalam negeri sendiri bisa menghasilkan bahan makanan tersebut, di segi lain juga demikian kenaikan bahan bakar minyak yang terjadi sampai 12 kali kenaikan (perubahan harga), penjualan menurun dari hilir ke hulu, market-market yang sepi pembeli. Melihat fenomena tersebut masyarakat yang dulunya memilih merasa eneg tiba-tiba, karena merasa pemimpin yang dipilihnya tidak merasakan apa yang diderita oleh masyarakat sendiri.
  • Masyarakat yang tidak memilih Jokowi karena pendukungnya dari partai demokrasi indonesia perjuangan. Dimana pada partai tersebut didiami oleh beberapa orang yang hampir semuanya beragama non-muslim, kenapa hal tersebut dijadikan alasan? Karena apabila suatu partai besar dan berkuasa maka kebijakan-kebijakanya bisa saja menyimpang aturan dari syareat Islam mengingat negara kita adalah negara Islam. Misalnya ada kebijakan yang tidak sejalan/sepaham dengan kesepahaman aturan Islam yang baku, contohnya menolak Undang-undang Pornografi, Undang-undang LGBT. Tidak saja dihuni oleh orang-orang non-muslim, partai ini juga melindungi kepada orang yang pernah menista agama Islam. Melihat itu semua masyarakat enggan atau tidak sudi apabila patahana mencalonkan dirinya menjadi penguasa di negara kita ini.

Melihat keempat alasan atau mungkin lebih alasan-alasanya lainya sehingga pada jelang Pilpres 2019 dari Kementerian hingga bawahan tidak bekerja secara maksimal karena mereka lebih condong untuk memenangkan kembali patahana tersebut, hal lain ketidakmaksimalnya kementerian dalam bekerja adalah ketika kementerian pendidikan tidak membuat peraturan-peraturan atau peraturan menteri tentang pendidikan nasional, karena setelah penulis amati bahwa peraturan menteri masih mengacu pada peraturan menteri yang pada waktu itu masih pemerintahan SBY.

Your Ads Here
Menjelang Pilpres 2019 dari Kementerian hingga bawahan tidak bekerja secara maksimal Rating: 4.5 Diposkan Oleh: berita tegal


Top